Kisah kisah islami inspiratif : "Jatuh hati kepada budak "
Tashawwuf / Akhlaq:
Kisah kisah islami inspiratif
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
"Jatuh Hati kepada Budak"
Tersebutlah, di antara budak-budak Khalifah Harun al-Rasyid terdapatlah seorang budak perempuan yang hitam dan jelek. Suatu hari khalifah melemparkan beberapa uang dinar (emas) di hadapan budak-budaknya. Tak ayal mereka saling berebutan memungut logam-logam mulia tersebut, kecuali si budak jelek yang tetap di tempatnya sambil menatap wajah Harun al-Rasyid. Lalu sang Khalifah bertanya kepadanya: “Kenapa kamu tidak ikut mengutip?.” Dia lalu menjawab: “Teman-temanku menghendaki uang, sedangkan aku menghendaki pemilik uang tersebut !.”
Mendengar itu khalifah menjadi ta’jub lantas mendekati sang budak sembari memuji keberaniannya. Maka tersebarlah berita kepada para gubernur di daerah-daerah bahwa khalifah jatuh hati pada seorang budak hitam. Manakala desas-desus tersebut sampai ke telinga khalifah, maka beliau segera mengirim surat panggilan kepada semua gubernur untuk datang menghadapnya di istana.
Setelah para gubernur berkumpul, al-Rasyid memerintahkan para budak untuk hadir dihadapan mereka sembari menyerahkan tiap-tiap mereka sebuah piala yang terbuat dari permata yaqut. Mereka satu persatu disuruh untuk membanting piala tersebut ke tanah, namun mereka menolaknya. Akan tetapi ketika tiba giliran si hitam jelek tadi, serta merta dia mencampakkan piala permata itu sehingga pecah berkeping-keping.
Khalifah berujar: “Lihatlah budak ini, wajahnya jelek namun perbuatannya ‘asin’ !.” Lalu khalifah bertanya kepadanya: “Mengapa kamu memecahkannya?.” Dia menjawab: “Tuan telah memerintahkan aku melakukannya, menurutku jika aku memecahkannya berarti berkurang harta khaifah, namun jika aku tidak memecahkannya berarti ‘berkurang’ (cacat) perintah khalifah. Berkurang harta lebih baik demi memelihara kehormatan perintah seorang khalifah. Aku lihat juga, dengan memecahkannya aku dianggap sudah gila sedangkan jika tidak, aku dianggap pembangkang, dan aku lebih suka yang pertama daripada yang kedua.
Maka para gubernur berdecak kagum atas apa yang mereka lihat dan barulah mereka mengerti mengapa khalfah mencintai budak tersebut. Wallaahu a’lam bimaa hunaalik.
(Al-Qalyubiy, Al-Nawaadir (Memetik Hikamh di Taman Kisah), hal. 5)
Kisah kisah islami inspiratif
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
"Jatuh Hati kepada Budak"
Tersebutlah, di antara budak-budak Khalifah Harun al-Rasyid terdapatlah seorang budak perempuan yang hitam dan jelek. Suatu hari khalifah melemparkan beberapa uang dinar (emas) di hadapan budak-budaknya. Tak ayal mereka saling berebutan memungut logam-logam mulia tersebut, kecuali si budak jelek yang tetap di tempatnya sambil menatap wajah Harun al-Rasyid. Lalu sang Khalifah bertanya kepadanya: “Kenapa kamu tidak ikut mengutip?.” Dia lalu menjawab: “Teman-temanku menghendaki uang, sedangkan aku menghendaki pemilik uang tersebut !.”
Mendengar itu khalifah menjadi ta’jub lantas mendekati sang budak sembari memuji keberaniannya. Maka tersebarlah berita kepada para gubernur di daerah-daerah bahwa khalifah jatuh hati pada seorang budak hitam. Manakala desas-desus tersebut sampai ke telinga khalifah, maka beliau segera mengirim surat panggilan kepada semua gubernur untuk datang menghadapnya di istana.
Setelah para gubernur berkumpul, al-Rasyid memerintahkan para budak untuk hadir dihadapan mereka sembari menyerahkan tiap-tiap mereka sebuah piala yang terbuat dari permata yaqut. Mereka satu persatu disuruh untuk membanting piala tersebut ke tanah, namun mereka menolaknya. Akan tetapi ketika tiba giliran si hitam jelek tadi, serta merta dia mencampakkan piala permata itu sehingga pecah berkeping-keping.
Khalifah berujar: “Lihatlah budak ini, wajahnya jelek namun perbuatannya ‘asin’ !.” Lalu khalifah bertanya kepadanya: “Mengapa kamu memecahkannya?.” Dia menjawab: “Tuan telah memerintahkan aku melakukannya, menurutku jika aku memecahkannya berarti berkurang harta khaifah, namun jika aku tidak memecahkannya berarti ‘berkurang’ (cacat) perintah khalifah. Berkurang harta lebih baik demi memelihara kehormatan perintah seorang khalifah. Aku lihat juga, dengan memecahkannya aku dianggap sudah gila sedangkan jika tidak, aku dianggap pembangkang, dan aku lebih suka yang pertama daripada yang kedua.
Maka para gubernur berdecak kagum atas apa yang mereka lihat dan barulah mereka mengerti mengapa khalfah mencintai budak tersebut. Wallaahu a’lam bimaa hunaalik.
(Al-Qalyubiy, Al-Nawaadir (Memetik Hikamh di Taman Kisah), hal. 5)
Komentar
Posting Komentar